Ilmu Komunikasi Untirta

we can't not to communicate

Model-model Audit PR

Posted by iye tukang copypaste pada 15 Juni 2012

Peran penting public relation atau humas bagi sebuah organisasi atau lembaga sudah banyak diakui. Namun, upaya mengukur keberhasilan kinerja PR sejauh ini belum dilakukan secara maksimal. Akibatnya, kontribusi PR untuk menunjang aktivitas lembaga tidak dapat terukur. Inilah salah satu sisi kelemahan pengelola PR yang harus segera diperbaiki. Sudah saatnya, pengelola PR di suatu lembaga mampu melakukan riset kehumasan agar kinerja dan dampak yang dihasilkannya bisa diukur. Ukuran inilah yang nantinya akan menjadi landasan bagi pimpinan atau pengambil keputusan di sebuah lembaga untuk merealisasikan program PR yang diusulkan berikutnya.
Harus diakui, riset kehumasan dalam dunia empiris sangatlah tidak populer. Hal ini terlihat dari gejala yang ditemui di banyak organisasi yang nyaris tidak mengandalkan riset kehumasan dalam program kerja humas tahunan maupun jangka panjangnya. Padahal, sebagai salah satu fungsi manajemen, humas bekerja dengan perencanaan yang matang dan terukur, pengorganisasian yang terkoordinir, pelaksanaan yang sesuai perencanaan dan pengawasan yang ketat, dan kembali sesuai parameter yang ditetapkan dalam perencanaan. Artinya, pengawasan dilakukan salah satunya dengan melakukan riset dan perencanaan disusun pun berdasarkan hasil riset yang reliable atau bisa diandalkan dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan obyektif.
Namun kenyataannya, fenomena dalam dunia empiris, baik di dunia kerja maupun di dunia akademis menunjukkan bahwa riset kehumasan sangat tidak populer bahkan dihindari, ditakuti oleh para praktisi humas itu sendiri. Akibatnya, peran humas pun bergulir tidak lebih dari seremonial belaka dan tidak pernah meningkat dan menyentuh kepada hal-hal yang lebih substantif dan strategis.

Tidak sedikit praktik public relation di tanah air yang hanya berpijak pada akal sehat (common sense) dalam arti tidak memperhitungkan sama sekali ukuran-ukuran rasional yang bisa dipahami bersama. Implikasinya, sekalipun dianggap penting atau strategis, dukungan nyata terhadap PR dalam bentuk alokasi anggaran dan sarana penunjang dirasa masih kurang atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan. Guna mengurangi masalah seperti itu, sudah saatnya praktisi PR memahami arti penting communication measurement dalam setiap aktivitas kehumasan. Ada 5 (lima) tujuan pengukuran sebagaimana dijelaskan oleh praktisi komunikasi dari Selandia Baru Simon Taylor, kelima tujuan itu adalah:
1.    Menciptakan nilai (value)
2.    Memperbaiki apa yang sudah dilakukan sebelumnya
3.    Memberikan penghargaan dan memacu keberhasilan
4.    Menemukan, mengenali, dan meluruskan kekeliruan
5.    Mendemonstrasikan nilai
Di bidang public relation, ada sejumlah model riset yang bisa diaplikasikan untuk mengevaluasi kinerja PR. Mengacu pada deskripsi yang pernah dipaparkan oleh Macnamara dalam bukunya PR Matrics (2002), ada 5 (lima) model yang bisa dipilih yaitu:

1.    Model PII atau The PII Model yang dikembangkan oleh Cutlip et al;
The PII Model merupakan riset yang menggali pelaksanaan program PR dari tahap preparation (persiapan), implementation (pelaksanaan), dan impact (dampak). Lewat riset ini, pertanyaan-pertanyaan riset muncul secara spesifik sesuai dengan tahapan yang ditanyakan. Jawaban yang dihasilkan dari riset ini akan meningkatkan pengertian dan memperkaya informasi untuk menilai efektivitas.

2.    Model Makro Evaluasi PR atau The Macro Model of PR Evaluation yang kemudian berganti nama menjadi Model Piramdia Penelitian PR atau The Pyramid Model of PR Research
Model ini merupakan pengembangan dari PII Model dengan membagi tahapan pengukuran dari sisi inputs, ouputs, dan outcomes serta merekomendasikan evaluasi atas masing-masing tahapan tersebut.

3.    The PR Effectiveness Yardstick Model yang dikembangkan oleh Walter Lindenmann
Model ini menawarkan metodologi riset yang lebih canggih dan mendalam dan bukan sekadar riset yang dilakukan secara kronologis sebagaimana dipraktikkan PII Model. Lindenmann membagi metode risetnya ke dalam 3 tahap yakni output, intermediate, dan advanced. Masing-masing tahapan diarahkan untuk mengukur subyek yang telah ditentukan.

4.    Model Evaluasi Berkesinambungan atau The Continuing Model of Evaluation yang dikembangkan oleh Tom Watson
Model ini menekankan bahwa riset dan evaluasi PR berjalan secara berkesinambungan dan menyoroti arti penting umpan balik yang dihasilkan dari program PR.

5.    Model Evaluasi Terpadu atau The Unified Evaluation Model yang disusun oleh Paul Noble dan Tom Watson
Model ini membagi tahapan riset menjadi 4 yakni: input, output, impact, dan effect.

Ditulis Oleh: Wildan Hakim
Sub Proffesional Mass Communication for PR, KMP PNPM Mandiri Perkotaan

copypaste from :
http://wildan-komunikasi.blogspot.com/2011/07/pentingnya-riset-kehumasan.html

Ditulis dalam AUDIT PR | Leave a Comment »

Audit PR

Posted by iye tukang copypaste pada 15 Juni 2012

Hi, teman-teman pelajar komunikasi (khusunya Public Relations), Kali ini kita bahas tentang Audit Public Relations. WHY ORGANIZATION NEED AUDIT PUBLIC RELATIONS? Mari kita mulai dari asal katanya terlebih dahulu, dimana Audit adalah pemeriksaan dan pengujian laporan keuangan. Lalu mengapa, kalau ditujukan untuk masalah financial, kita sebagai orang PR juga butuh audit? Menurut Webster’s New World Dictionary, audit itu meliputi 5 Aspek : Pengujian&Pemeriksaan atas rekenin Koran/laporan kengan untuk memastikan kebenarannya.

Pemberesan atau penyesuaian rekening rekening yang diuji dan disesuaikan pernyataan akhir dari para auditor tentang suatu rekening setiap pengujian & evaluasi seksama atas sebuah persoalan Nah, financial things berhubungan dari butir 1 sampai butir 4, sedangkan sebagai orang PR, mari kita lihat BUTIR KE 5. Pengertian butir ke 5, mengandung makna semua aspek yang dianggap penting dalam suatu sistem kerja yang dapat di audit. ARTINYA, sistem komunikasi pun sebagai salah satu aspek dalam suatu sistem kerja, juga bisa di audit seperti halnya sistem pemasaran, sistem organisasi, dan lainnya. BACK TO DEFINITION OF PUBLIC RELATIONS. Suatu proses audit, memiliki hubungan yang erat dengan komunikasi khusunya PR. Kalau kita lihat dari salah satu definisi yang diutarakan oleh bapak J.C Seidel, yaitu ”PUBLIC RELATIONS ADALAH USAHA MANAJEMEN UNTUK MEMPEROLEH PENGERTIAN DAN GOODWILL DARI PARA PELANGGAN, PEGAWAI, DAN PUBLIK PADA UMUMNYA. KEDALAM DENGAN MENGADAKAN ANALISIS DAN PERBAIKAN-PERBAIKAN TERHADAP DIRI SENDIRI, DAN KELUAR MENGADAKAN PERNYATAAN-PERNYATAAN” Mengapa mengambil definisi dari J.C Seidel? Dalam Audit PR, kita melakukan suatu riset komperhensif mengenai suatu perusahaan. Tidak selalu ada masalah dalam perusahaan tersebut, namun pasti ada saja yang sesuatu yang harus diseldiki, baik itu CEO, Karyawan, event, customer, dan lain lain. Hey, we look like Communication Intellegent Agency, huh? (CIA ) Kembali lagi pada pengertian J.C Seidel, dimana kita sebagai PR, tentu saja tujuan utamannya adalah menciptakan GOODWILL dan pengertian public (baik internal mau pun eksternal). -> DENGAN MENGADAKAN ANALISIS. Nah, analisis disini yang mau saya BOLD. Karena, AUDIT PR memang membutuhkan analisis terhadap diri sendiri (COMPANY), dan mengemukakan pernyataan-pernyataan pada public, tentunya dengan solusi atas suatu masalah yang terjadi pada perusahaan tersebut Jadi, apakah suatu perusahaan butuh Audit Public Relations? Jawabannya YA. Tentu saja, untuk menjaga keseimbangan, keselarasan, dan kenyamanan komunikasi dalam perusahaan, suatu perusahaan butuh Audit PR. WHAT THE PURPOSE OF AUDIT PUBLIC RELATIONS? Tujuan Audit PR adalah untuk mengetahui POSISI PR dalam suatu organisasi secara komperhensif sehingga dapat diancang kegiatan humas selanjutnya Apa hanya sebatas itu saja? Jawabannya adalah TIDAK. Tujuan khusus audit PR : Untuk meningkatkan KINERJA PR melalui peningkatan efektivitas program-programnya. Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman organisasi (SWOT

Artikel ini adalah lanjutan dari pembahasan mengenai audit humas yang pertama. Disini, kita akan membahaas mengenai mengapa dilakukan AUDIT PR, dan bagaimana PROSES AUDIT PR itu sendiri? ALASAN DILAKUKAN AUDIT PR : (diambil dari handout perkuliahan audit humas universitas padjadjaran Oleh : Evie Ariadne) Masih bingung, mengapa suatu perusahaan membutuhkan audit PR? Audit PR dilakukan disaat PRO (Public Relations Officer) baru menjabat dalam pekerjaannya. Audit akan memberi informasi kekuatan, dan kelemahan PR, menjelaskan tujuan PR, menentukan fungsi PR, dan menunjukan nilai potensian dari program PR. Disaat PRO merencanakan program-program kegiatan, audit dapat membantu PRO mengenali manajemen melalui persepsi dari luar dan mendorong ke arah suatu PERUBAHAN. Ketika CEO baru, audit membantu mengetahui prioritas program-program baru yang akan dilaksanakan dan sikap publik terhadap lembaga Terjadi perubahan dalam kondisi keungan dan ingin menyusun anggaran belanja untuk kegiatan kegiatan lemabga umumnya dan PR khususnya. Seperti terjadi turun naik penghasilan yang drastis, perubahan deviden, perubahan anggaran untuk bagian atau kegiatan PR. Ketika lembaga melakukan perubahan arah, audit akan memberi pentunjuk apakah harus melakukan GO PUBLIC, MERGER, AKUSISI, dan PENEKANAN PRODUK atau JASA Terjadi perubahan besar dalam struktur lembaga, seperti keberhasilan yang diraih, pengaturan manajemen baru, dan penata ulang bagian biro. Audit akan menyiagakan pimpinan dalam menghadapi perubahan yan diterima dari publik dalam dan luar Ketika diperlukan peninjauan ulang identitas atau kampanye uklan yang dilakukan PR, audit membantu dalam menentukan arah baru disaat PRO memerlukan kejelasan mandat dari pimpinan, audit memberikan objektivitas yang diperlukan. ketika perlu ditetapkan sebuat patok branding/brenchmark untuk tolak ukur itu sendi dan untuk mengukur kemajuan tahunan/berkalan untuk menyusun kembali prioritas perencanaan Disaat perlu membangun landasan dan latar belakang guna pengembangan kebijakan dan perencanaan program baru AUDIT PUBLIC RELATIONS = PROSES PUBLIC RELATIONS. Masih ingat, model proses PR yang dibuat oleh Cutlip&Center, pada bukunya Effective PR. Ini adalah model yang paling sering digunakan oleh praktisi PR, untuk merencanakan suatu PR Plan. Pada model ini terdapat 4 tahap penting yaitu; Defining Public Relations Problem (Situation Analysis: What is Happening Now), Planning and Programming (Strategy: What Should we do and say and WHY?), Taking action and Communicatiing (Implementation : How and when do we do and say it?), terakhir Evaluation the Program (Assessment : How did we do?) Mendefinisikan masalah : dilakukan melalui penelitian dengan menganalissi situasi berupa pemahaman, opini, sikap, dan perilaku public terhadap lembaga. PERTANYAANNYA: agar yang terjadi sekarang bertolak dari hasil. Fact Finding ini dapat dirumuskan permasalahan secara akurat Planning Programming : Dari rumusan masalah, dibuat strategi perencanaan dan pengambilan keputusan untuk membuat program kerja berdasarkan kebijakan lembaga yang disesuaikan juga dengan kepentingan public. PERTANYAANNYA, apa yang harus dilakukan? Dan apa yang akan dikatakan? Dan mengapa melakukan ini? Tahap pelaksanaan/implementasi dan komunikasi : ditahap ini PRO harus mengkomunikasikan pelaksanaan program secara menarik sehingga mampu mempengaruhi sikap publiknya yang mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. PERTANYAAN : bagaimana dan kapan akan dikerjakan dan bagaimana menjelaskannya Tahap ini melakukan penilaian terhadap hasil pelaksanaan program dari perencanaan, pelaksanaan program, pengkomunikasian samapai keberhasilan akan kegagalan yang terjadi dari program tersebut. PERTANYAAN : bagaimana kita mengerjakannya? Selain 4 tahap PR diatas, kita juga bisa memakai tahap lainnya : Joyce F Jones Said : FINDING OUT WHAT WE THINK Ini adalah sebuah wawancara dengan manajemen puncak dan dalam beberapa hal juga manajemen menengah untuk melihat kekuatan dan kelemahan dalam perusahaan, pulik relevan dan amsalah2 yang relevan dieksplorasi FINDING OUT WHAT THEY THINK Penelitian dilakukan untuk menentukan kedekatan pandangan public dengan pandangan perusahaan EVALUATING THE DISPARITY Sebuah neraca kehumasan yang menggambarkan asset, kemampuan, kekuatan, dan kelemahan dirancang berdasarkan analisis perbedaan yang didapat dari langkah pertama dan kedua RECOMMENDING Sebuah program kehumasan yang lengkap dirancang untuk mengurangi perbedaan yang didapat dalam langkah pertama da kedua

copypaste from http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2011/05/audit-public-relation-part-2.html

Ditulis dalam AUDIT PR | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.